BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 01 Desember 2010

MAKALAH PSIKOLOGI ANAK - SOFTSKILL

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

PERLU TIDAK YA?

D

I

S

U

S

U

U

N

OLEH

NADIA ALIFAZUHRI MUJITO

KELAS : PA2-01

NPM :

10509502

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB. 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Tujuan Penulisan

BAB. 2. PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PERLUKAH?

2.1. Esensi Pendidikan Anak Usia Dini

2.2. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

2.3. Kaidah Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini

2.4. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam

2.5. Pendidikan Anak Usia Dini Yang Pluralis

BAB. 3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA



BAB. 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan Anak Usia Dini dewasa ini banyak diminati oleh para orang tua terutama di kota-kota besar untuk memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan pra pendidikan dasar yang lebih dikenal dengan istilah PAUD. Tujuannya dan atau alasan para orang tua antara lain adalah :

- Karena kesibukan kedua orang tuanya maka anaknya dimasukkan ke lembaga PAUD sebagai tempat penitipan anak selama ditinggal bekerja sekaligus mendapat pembelajaran pra sekolah;

- Atau karena orang tua nya sadar dan sengaja memasukan anaknya ke lembaga PAUD dengan tujuan agar anaknya memperoleh bekal yang cukup manakala memasuki masa pendidikan dasar.

Padahal pada kenyataannya PAUD diperlukan bagi anak, ruang lingkup Pendidikan Anak Usia Dini adalah : Infant (usia 0 - 1 tahun); Toddler (usia 2-3 tahun); Preschool/Kindergarten (usia 3-6 tahun) dan Early Primary School/SD Kelas Awal (usia 6-8 tahun), hal ini berkaitan dengan :

- Potensi intelektual terbentuk sejak umur 4 (empat) tahun,

- Perkembangan otak lebih banyak dipengaruhi lingkungan,

- Intervensi usia dini berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya,

- Peningkatan mutu pendidikan harus dimulai sejak anak usia dini,

- Lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan yang utama dan pertama.

Oleh karena itu hendaknya proses Pendidikan dan Pembelajaran pada Anak Usia Dini (PAUD) dilakukan dengan tujuan memberikan konsep yang bermakna bagi anak melalui pengalaman nyata.

1.2. Tujuan

Dengan disusunnya makalah yang bertemakan dan mengungkap beberapa aspek berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diharapkan dapat memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa perlu serta implikasi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini. Selain dari itu makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dari mata kuliah “Softskill Psikologi”.


BAB. 2.

PAUD PERLU TIDAK YA?

2.1. Esensi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah program yang diselenggarakan untuk memberikan pelayanan pendidikan dan perawatan bagi anak sedini mungkin agar memperoleh pembinasaan tumbuh kembang yang optimal dan mempunyai kesiapan masuk sekolah.

Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensiitif untuk menerima berbagai rangsangan.

Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, emosional, agama dan moral.

Pendidikan usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahun, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Satuan Padu Sejenis Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan.

2.2. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini

Ada tiga hal yang dijadikan landasan PAUD, yaitu :
1. Landasan Yuridis
2. landasan Empiris
3. Landasan Keilmuan

Landasan Yuridis

Landasan hukum terkait dengan pentingnya PAUD tersirat dalam :

  • Amandemen UUD pasal 28b ayat 2, yaitu : negara menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan.
  • Keppres No. 36 tahun 1990, Konvensi Hak Anak, kewajiban negara untuk pemenuhan hak anak.
  • UU No. 20/2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
  • PP No.27/1990 tentang pendidikan Prasekolah
  • PP No.39/1992 mengenai Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional

Berbagai komitmen/peraturan maupun konvensi internasional yang terkait dengan hak asasi anak (beberapa telah diratifikasi).

  • CRC-20 November 1989, pemenuhan hak-hak dasar anak
  • United Nations Milenium Declaration- 8 Desember 2000, tentang perlunya nilai-nilai dasar yang bersifat universal yang harus ditanamkan pada anak-anak.
  • The World Fit for Children - 8 Mei 2002, tentang memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak untuk berpartisipasi dalam pengambilan dan pemenuhan hak-hak dasar anak.
  • Konferensi internasional di Dakkar – Senegal tahun 2000, “memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia, terutama bagi nak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung”.

Landasan Empiris

· Sensus penduduk 2003, diperkirakan jumlah anak usia dini di Indonesia adalah 26,17 juta jiwa. Namun yang belum terlayani PAUD masih terdapat sekitar 19,01 juta (72,64%).

· Laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) pada tahun 2002 Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara dan 111 pada tahun 2004, jauh di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (59), Philipina (77), Thailand (70).

· Berdasarkan hasil studi “kemampuan membaca” siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International Educational Achevement (IEA) diketahui bahwa siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 38 dari 39 negara.

· Hasil penelitian The Third International Mathematics and Science Study Repeat tahun 1999, kemampuan siswa Indinesia di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti dan di bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti.

· Berdasarkan Piramida pendidikan Depdiknas tahun 1999/2000, yaitu rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian kita terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat minim.

Landasan Keilmuan

Penelitian-penelitian :

· Seorang bayi yang baru lahir memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Ini menunjukkan selama 9 bulan masa kehamilan, paling tidak setiap menit dalam pertumbuhan otak diproduksi 250 ribu sel otak. Setiap sel otak saling terhubung dengan lebih dari 15 ribu simpul elektrik kimia yang sangat rumit sehingga bayi yang berusia 8 bulan pun diperkirakan memiliki biliunan sel saraf di dalam otaknya. Sel-sel saraf ini harus rutin distimulasi dan didayagunakan supaya terus berkembang jumlahnya.

· Pada usia rawan saat anak mulai banyak bergerak, yaitu usia 6 bulan, angka kecelakaan dapat berkurang sebanyak 80% bila mereka diberi rangsangan dini.

· Pada umur 3 tahun, anak-anak akan mempunyai IQ 10 sampai 20 poin lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah mendapat stimulasi.

· Pada usia 12 tahun, mereka tetap memperoleh prestasi yang baik dan pada usia 15 tahun, tingkat intelektual mereka semakin bertambah.

· Ini memberikan gambaran bahwa pendidikan sejak dini memberikan efek jangka panjang yang sangat baik. Sebaliknya, bila anak mengalami stress pada usia-usia awal pertumbuhannya akan berpengaruh juga pada perkembangan otaknya. Anak yang dibesarkan di dalam lingkungan yang minim stimulasi, berkurang kecerdasannya selama 18 bulan yang tidak mungkin tergantikan.

· Otak manusia terdiri dari 2 belahan, kiri (left hemisphere) dan kanan (right hemisphere) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpuss callosum. Kedua belahan otak tersebut memiliki fungsi, tugas, dan respons berbeda dan harus tumbuh dalam keseimbangan. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk berpikir rasional, analitis, berurutan, linier, saintifik seperti membaca, bahasa dan berhitung. Sedangkan belahan otak kanan berfungsi untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Bila pelaksanaan pembelajaran di PAUD memberikan banyak pelajaran menulis, membaca, bahasa dan berhitung seperti yang cenderung terjadi dewasa ini, akan mengakibatkan fungsi imajinasi pada belahan otak kanan terabaikan. Sebaiknya dalam usaha memekarkan segenap kecerdasan anak, pembelajaran pada anak usia dini ditunjukkan pada pengembangan kedua belahan otak tersebut secara harmonis.

· Gardner menemukan bahwa otak manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan yaitu : bahasa, logis matematis, visual-spasial, musical, kinestik, interpersonal social, intrapersonal, naturalis.

2.3. Kaidah Pembelajaran PAUD

Pembelajaran PAUD meliputi beberapa hal :

2.3.1. Wilayah Perkembangan vs Wilayah Pembelajaran yaitu

- pertumbuhan hasrat ingin tahu

- perkembangan minat

- pembentukan karakter

- perkembangan sosial

- perkembangan emosional

- perkembangan otak/kognitif

- perkembangan bahasa

- perkembangan moral,nilai, keagamaan

2.3.2. Mengembangkan Cinta dan Kesiapan Belajar

- kasih sayang, perlindungan, perawatan

- waktu yang diberikan : jumlah dan mutu

- lingkungan belajar yang positif

- sikap/perlakukan sebagai belajar nilai

- belajar moral pada usia dini

2.3.3. Bagaimana Anak Belajar

- rasa sehat, istirahat, makan

- dunia meniru pada anak

- faktor latihan dan rutinitas

- kebutuhan bertanya dan jawaban

- pikiran anak =/= orang dewasa

- pengalaman langsung ----> hal kritis

- trial and error

- bermain urusan pokok anak

2.3.4. Stratregi Pembelajaran :Metode Ceritera, Sebuah Implikasi

- dunia lisan sebagai kekuatan pemahaman

- berceritera sebagai metode utama

- satuan pelajaran berwujud ceritera; bukan perangkat tujuan

- pengembangan konsep dalam rongga seritera

- bahasa grafis

- dunia permainan.

2.4. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam

Pendidikan anak usia dini dalam Islam merupakan hal yang sangat penting. Ini disebabkan rentang usia dini merupakan fase emas bagi pertumbuhan jiwa dan kepribadian anak. Karena itu, pendidikan pada fase ini hendaknya benar-benar menerapkan metode yang sesuai konsep pendidikan Islam berdasarkan teladan Raulullah Saw. Beberapa kiat dalam menerapkan pendidikan anak usia dini dalam Islam.

Menjadi Sahabat Sekaligus Teladan Anak

Rasulullah terkenal sebagai penyayang anak dan kerap menemani anak-anak bermain tanpa merasa canggung. Dalam riwayat Sa’ad bin Abi Waqqas bercerita bahwa dirinya pernah masuk kerumah Rasulullah saat Hasan tengah bermain di atas perut sang kakek.

Sa’at lantas bertanya, apakah Rasulullah mencintai mereka. Dijawab oleh Rasulullah,”Bagaimana mungkin aku tidak mencintai dua kuntum bunga raihanah ini.

Disela-sela aktivitasnya menemani anak-anak. Rasulullah selalu menyelipkan pesan-pesan keteladanan. Sebagai bagian dari pendidikan anak usia dini dalam Islam, orang tuapun memiliki peran penting terkait menanamlan keteladanan terhadap anak. Apalagi di zaman sekarang televisi sebagai media hiburan tak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan akhlak anak-anak muslim.

Mengembirakan Hati Anak

Suatu saat setelah penaklukan Mekkah, Rasulullah meminta Bilalmengumandangkan azan di atas Ka’bah. Saat Bilal melaksanakan tugasnya, beberapa musyrikin Quraisy mengolok-oloknya dengan menirukan suara Bilal.

Salah satu di antara mereka bernama Abu Mahdzurah, seorang anak bersuara merdu. Mendengat olok-olok Abu Mahdzurah yang waktu itu berusia 16 tahun, Rasulullah meminta agar dia dibawa menghadap beliau.

Abu Mahdzurah menyangka Rasulullah akan membunuhnya. Namun apa yang diperbuat Rasulullah?Beliau justru mengusap-usap ubun-ubun remaja itu dengan penuh kelembutan . Kontan hati Abu Madzurah pun luluh, terasa tersiram oleh iman dan keyakinan Rasulullah lantas mengajarinya beradzan untuk penduduk Mekkah.

Satu hikmah yang diptik dari kisah di atas. Bahwa hati yang gembira akan lebih mudah menerima perintah, larangan, peringatan, atau bimbingan apa pun. Karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk selalu membuat anak bergembira setiap saat. Tindakan kenakalan tidak sepatutnya dibalas dengan hadirkan atau kemarahan.

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak, Rasulullahmenggunakan beberapa cara berikut :

- Saat sedang berpuasa Rasulullah mengajak anak-anak bermain sehingga siang yang panjang terasa cepat. Anak-anak akan menyongsong waktu berbuka dengan gembira. Hal ini juga membuat anak memiliki kepercayaan diri sanggup berpuasa sehari penuh.

- Sering membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, resepsi atau bersilaturahmi ke rumah saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya.

- Mengajari Al Qur’an dan As Sunnah serta mencerterakan sirah nabi untuk meningkatkan kepercayaan diri ilmiahnya.

- Menanamkan kebiasaan berjual-beli untuk meningkatkan kepercayaan diri anak terkait ekonomi dan bisnis. Disamping itu, sejak dini anak terlatih mandiri secara ekonomi.

Memotivasi Anak Berbuat Baik

Anak-anak, terutama pada fase usia dini, cenderung lebih mudah tersentuh oleh motivasi ketimbang ancaman. Maka, hendaknya orang tua tidak mengandalkan ancaman untuk mendidik sang buah hati. Ketimbang banyak bicara soal murka Allah, siksa dan neraka-Nya mengapa tdak memotivasinya bahwa kebaikan akan mendapat balasan surga dengan segala kenikmatannya?.

2.5. Pendidikan Anak Usia Dini Yang Pluralis

Seorang teman guru pernah bercerita perihal anak balitanya yang berusia 4 tahun yang dimasukan ke lembaga pendidikan anak usia diniyang berlabel play group beridentitas eksklusif. Namun kemudian ada keterkejutan teman saya manakala baru 2 bulan anak balitanya disekolahkan di play group yang eksklusif itu muncul perilaku aneh dari sang anak.

Dari semula seorang balita yang ceria menjadi pendiam. Dari balita yang awalnya gemar menonton film kartun melalui televisi menjadi sosok anak yang menolak menonton tayangan televisi apapun acaranya. Bahkan tak jarang sang anak balita menasihati sang ibu dan sang ayah tentang petuah moral yang mungkin sang anak tidak mengerti maknanya. Usut punya usut manakala sang ibu menyelidiki faktor perubahan karakter anak, ternyata dalam metode pembelajarandi play group yang berbiaya mahal itu ditekankan materi pembelajaran yang serba “melarang”atau “mengekang” kebebasan berpikir dan berindak anak.

Di dalam ruang kelas pembelajaran dan ruang bermain anak, para guru (pengasuh ) banyak memberikan materi pembelajaran dalam metode yang doktriner. Anak didik yang seharusnya baru dalam tahap pertumbuhan kejiwaan dan spirit bermain diajarkan tafsir moral keagamaan yang sangat literer bahwa apa yang dilakukan para anak didik harus sesuai tafsir ajaran agama yang literer atau tekstuali. Dengan demikian, diluar apa yagn diajarkan dianggap “haram” dan tidak bermoral. Menonton TV dianggap denkat dengan perbuatan “tercela”. Anak-anak bermain harus dipisah menjadi dua kelompok bermain, antara perempuan dan laki-laki. Anak-anak tidak boleh menggunakan perkakas bermain yang berasal dari negara lain yang dianggap sekuler.

Belajar dari kasus aktual yang kini marak di balik model dan menjamurnya pendidikan anak usia dini yang eksklusif tersebut, akankah generasi muda bangsa ini di masa depan akan penuh dengan pengotak-otakan atas dasar keyakinan “ideologis” tertentu? Di dunia pendidikan termasuk yang usia prasekolah-telah dikembangkan kultur dan ajaran yang sifatnya antitoleransi dan mengedapankan tafsir moralitas yang absurd?

Pendidikan anak usia dini dan jejnjang pendidikan dasar saat ini terbelah menjadi 2 realitas. Pertama, Pendidikan anak usia dini dan jenjang pendidikan dasar menjadi “proyek” rekayasa sosial untuk melahirkan komunitas basis ideologi politik tertentu. Kelompok-kelompok “eksklusif” sosial tertentu bahkan menjadikan level pendidikan anak usia dini dan jenjang pendidikan dasar sebagai sarana kaderisasi sejak dini. Materi pembelajaran yang dikembangkan dan kurikulum mengabaikan kesadaran sosial sebagai nation (bangsa). Realitas yang kedua, jenjang pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar menjadi sarat mendapatkan “nilai lebih” (laba) ekonomi atau bahasa harfiahnya menjadi ladang bisnis dalam atmosfer komersialisasi pendidikan. Tidak mengherankan biaya pendidikan anak usia dini dan jejnajgn pendidikan dasar semakin mahal, tidak mungkin terjangkau oleh kocek keluarga miskin.

Pada hakikatnya jenjang pendidikan anak usia dini diperlukan untuk mengembangkan kepribadian anak dan mengangkat motivasi kolektivitas sosial anak didik. Pendidikan anak usia dini menjadi media bermain, karena itu anak menjadi berkembang kemampuan kognisi-afeksi dan psikomotoriknya.

Pendidikan anak usia dini seharusnya menjadi media pendidikan yang “liberal” dalam makna membiarkan anak didik bermain dan berpikir sesuai kebutuhan fisiologis dan psikisnya. Sehingga anak bisa merasakan proses pendewasaan diri sebagai calon “manusia” yang humanis dan toleran.

Memang tidak bisa disalahkan penyelenggara pendidikan anak usia dini mengembangkan ideologi tertentu sebagai sarana kaderisasi politik sejak dini. Masalahnya, jangan sampai program kurikulum pendidikan anak usia dini menjadi “penjara” yang membatasi kebebasan kreatif-berpikir anak.

Anak usia balita tidak etis apabila dikenalkan dengan tafsir ajaran moral yang puritan dan antitoleransi, sehinggan lambat laun ke depannya akan mendidik mentalitas antisosial dan anti kebinekaan. Anak balita seharusnya diajarkan tentang bagaimana mengembangkan sikap humanis dan menghargai kebebasan asasi anak yang lain.

Imlikasi pendidikan anak usia dini yang eksklusif-puritan akan menjadikan anak bangsa generasi muda kita sebagai generasi sosial yang selalu berpikir (bersikap) “oposisi biner” dalam aktivitas sosial yang dilakoninya. Memandang diri dan komunitasnya sebagai sentra kebenaran dan kelompok (komunitas) lain sebagai sesuatu yang salah.

Untuk itulah saat ini perlu dikembangkan model-kurikulum pendidikan anak usia dini yang “idealis” namun pluralis. Sebuah kurikulum pendidikan anak usia dini yang menghargai nilai kemanusiaan dan perbedaan keyakinan sosial antar kelompok.

Pendidikan anak usia dini yang berwatak pluralis dan humanis bisa dikembangkan oleh ormas keagamaan lintas agama/etnik sebagai media “pengembangan” nation Building bagi anak-anak balita, bisa pula dipelopori oleh kalangan ornop penggiat pendidikan alternatif.

Ikhtisar pendidikan anak usia dini yang pluralis, pertama, kurikulum pendidikan harus jauh dari semangat puritanisme dan stereotype sosial berbasis kesukuan-keagamaan dan harus mengedepankan materi pembelajaran yang meneguhkan dimensi kemanusiaan.

Kedua, model kurikulum pembelajaran anak usia dini mengikuti penalaran psikologi pendidikan yang umum (wajar). Tidak ada skenario menjadikan anak balita sebagai proyek percontohan “social engineering”. Ketiga, pendidikan anak usia dini pada hakikatnya adalah media belajar melalui logika bermain anak, karena itu tidak boleh ada pengekangan kebebasan berpikir dan kreatif yang positif.

BAB. 3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pendidikan anak usia dini (PAUD) jika diselenggarakan dengan berpedoman pada ketentuan yang telah digariskan oleh otoritas pendidikan nasional serta kaidah-kaidah yang berlaku universal bagi tumbuh kembang dan kebutuhan dasar anak di usianya, akan membawa dampak yang baik.

Pendidikan anak usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.

3.2. Saran

Pendidikan anak usia dini perlu dikembangkan,didukung dan mendapat pengawasan dari pemerintah secara obyektif . Pendidikan anak usia dini jangan bersifat “eksklusfi” dan menjadi ladang bisnis kelompok-kelompok kepentingan. Melainkan harus diselenggarakan secara massal dan terstruktur dengan baik dan berbiaya murah sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat secara luas.

Penulis mengharapkan kritik serta saran-saran perbaikan manakala penulis menyadari bahwasanya tulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, atas perhatian dan saran perbaikan diucapkan terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA

1. Konsepsi, Kebijakan, Dan Program Kerja Forum PAUD Jawa Barat – Sunaryo Kartadinata – Ketua Forum PAUD Jawa Barat.

2. http://file.upi/ai.php/dir=Direktori/A_FIP/JUR.PEND...

3. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam – AnneAhira.com Content Team

4. Pendidikan Anak Usia Dini Yang Pluralis – Hans – Guru SMAN I Sragen

5. Psikologi Anak – Admin Blog Dunia Psikologi – Nopember 19th, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar